Fingerprint Analysis

Mengenal Potensi Diri Melalui Analisa Sidik Jari

Download Contoh Hasil Fingerprint Test 9 November 2009

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — partiwi @ 6:58 am

Download Contoh Hasil Fingerprint Test- Talent Spectrum

Download Contoh Hasil Fingerprint Test-D

Bila Anda sudah mendownload Hasil Analisa ini, dan ingin tahu bagaimana cara membacanya, maka silakan konsultasikan dengan saya di 0858 69 757 757

 

Mereka yang Telah Menggunakan Analisa Sidik Jari 9 November 2009

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — partiwi @ 4:39 am
Tags: , , ,

‘ Putri saya menginjak remaja, dan sebentar lagi masuk SMA, dengan melakukan tes sidik jari dari DIC fingerprint analysis, dia jadi tahu kelemahan dan kelebihannya sehingga saat ini dia sudah dapat menentukan jurusan apa yang akan diambilnya pada saat SMAnanti, sekaligus hendak kemana pada saat kuliah kelak.’ ( Ibu Anna, PNS Semarang )

‘ Sebagai seorang guru Pendidikan Anak Usia Dini, saya jadi lebih mudah membimbing murid-murid saya. Karena tes sidik jari dari DIC fingerprint analysis ini dapat memberi tahu modalitas atau gaya belajar dari masing-masing individu, apakah dia auditory, kinestetik ataukan visual. sehingga dalam mengajar saya lebih mudah menentukan kegiatan pembelajaran yang sesuai untuk mereka. karena sekolah tempat saya mengajar, sebagian besar mengikuti tes ini.’ ( Ibu Yanti, guru, Semarang )

‘ Tes fingerprint ini membantu saya dalam mengasuh dua anak saya, karena dapat mengerti harus bagaimana memotivasi dan memperlakukan mereka sesuai dengan karakter masing-masing. tes ini juga mempermudah pekerjaan saya, karena lebih mudah untuk melakukan penanganan klien secara cepat dan tepat, karena selain bakat minat, tes ini juga mengungkap kepribadian seseorang secara genetik sehingga apabila dipadukan dengan observasi wawancara dan tes psikologi lain yang disesuaikan dengan kebutuhan akan menggambarkan individu secara lengkap.’ ( Ibu Septi, Psikolog )

Untuk mengikuti Tes Sidik Jari, silakan hubungi Partiwi 0858 69 757 757 (boleh SMS).

 

Multiple Inteligence dan Tips Menstimulasinya 8 November 2009

smart-kid

Riset kedokteran menunjukkan bahwa, bayi yang baru lahir memiliki 14 milyar sel otak, hanya sedikit perbedaannya dengan otak orang dewasa. 60% dibangun sebelum usia 3 tahun dan 80% sebelum 8 tahun. Oleh karenanya penting untuk mengembangkan sel-sel otak ini selama masih janin dan setelah lahir dan menyediakan lingkungan yang kondusif guna mendukung perkembangan otak tersebut.

Perkembangan potensi kecerdasan adalah sebuah proses yang rumit. Hal ini bukan saja menyangkut berapa jumlah sel atak yang ada namun lebih merupakan ketersambungan antara sel – sel ini dalam keseluruhan jaringanotak. Hanya 5% dari milyaran sel otak yang berkembang. Sementara 95%  lainnya belum. Oleh karenanya potensi pengembangan otak menjadi tidak terbatas.

Multiple Intelligence

1. Logis Matematis

Kemampuan untuk mengeksplorasi pola – pola kategori dan hubungan dengan memanipulasi objek atau symbol dan dengan eksperimen menurut cara yang terkendali dan teratur. Kemampuan untuk menalar baik secara deduktif atau induktif dan untuk mengenali dan memanipulasi pola – pola abstrak dan hubungan – hubungan.

Ciri – ciri :

  • Suka hal – hal yang bersifat matematik atau ilmiah
  • Senang permainan yang membutuhkan strategi seperti puzzle dan catur
  • Senang menyelidiki fenomena alam dan kejadian untuk hal – hal yang baru.

Cara menstimulasinya:

v  Bermain games yang menggunakan strategi dan logis sperti catur dan domino.

v  Mendorong anak berani berpendapat atau opini terhadap kejadian, cerita dan film

v  Menonton program televise yang berkaitan dengan matematika atau pengetahuan

v  Selalu melibatkan anak dalam berbagai aktivitas dalam keseharian

v  Mendaftarkan anak kursus dalam  mental aritmatika

v  Belajar mengoperasikan computer dan software ringan

v  Mendorong anak untuk berfikir dan menyelesaikan masalah

v  Membeli bahan atau perlengkapan untuk kepentingan percobaan yang dilakukan oleh anak.

Contoh Karir:

Programmer, banker, akuntan, ahli statistic, analisa data, pialang, auditor,  manajer pembelian, jaksa, peneliti dan profesi kesehatan serta Teknisi computer

2. Linguistik

Kemampuan untuk menggunakan bahasa guna menjadikan sebuah informasi menarik diterima dan meyakinkan. Melibatkan tidak hanya kemudahan dalam menghasilkan data namun juga sensitivitas terhadap tata letak dan ritme kata.

Ciri:

  • Senang berinteraksi, tulis menulis dan debat
  • Senang mendengarkan orang lain dan senang dengan pertanyaan
  • Senang membuat audience mendengarkan pendapatnya dan memiliki kosakata yang bagus
  • Senang bermain dengan kata – kata.
  • Senang baca tulis dan memahami fungsi bahasa baik dalam menghafal tempat, nama dan tanggal

Cara menstimulasinya:

v  Main games huruf, kata – kata dan puzlle kata silang

v  Mendorong untuk gemar membaca dan orang tua menyediakan tempat khusus membaca di rumah.

v  Belajar dan menulis dengan mendengarkan

v  Didorong untuk mengungkapkan pendapat sendiri

v  Belajar bahasa lain

3. Intrapersonal

Kemampuan untuk memahami perasaan, impian dan ide

Ciri:

  • Mampu menempatkan kesenangan atau ketidaksenangan terhadap aktivitas tertentu.
  • Dapat mengkomunikasikan perasaan
  • Peduli terhadap kelemahan dan kekuatan
  • Percaya diri dengan kemampuan yang dimiliki
  • Mampu untuk menempatkan tujuan – tujuan yang sesuai
  • Mampu untuk bekerja meraih cita citanya
  • Baik dalam memahami dirinya sendiri
  • Baik dalam memahami dan mengamati instingnya
  • Senang menjadi dirinya sendiri

Cara menstimulasi:

v  Tanya anak mengenai pendapat sendiri

v  Mendorong anak untuk berfikir tentang kejadian hari ini dan menuliskannya

v  Menyediakan buku perkembangan dirinya sendiri

v  Menetapkan tujuan bersama dengan anak – anak

v  Mendorong bertanya dan melakukan kegiatan bersama- sama

v  Mendorong anak untuk mengungkapkan perasaan dan emosinya

Karier yang sesuai:

Psikolog, terapis, filosofis, pemimpin keagamaan, pekerja social, pembimbing meditasi, pemimpin organisasi, trainer, professional dalam bidang kesehatan mental

4. Interpersonal

Kemampuan untuk memahami orang lain.

Ciri :

  • Menunjukkan ras empati terhadap orang lain
  • Berhubungan baik dengan rekan sebaya dan orang yang lebih dewasa
  • Menunjukkan kecakapan kepemimpinan
  • Bekerjasama dengan baik dengan orang lain
  • Sensitive terhadap perasaan orang lain
  • Baik dalam mengatur, mengkomunikasikan dan kadang kala memanipulasi seseorang

Cara menstimulasi :

v  Mendorong anak untuk mengunjungi teman dan berinteraksi

v  Medorong anaka untuk berbagi pendapat

v  Mendorong mengamati orang lain (gerak gerik dan ekspresi) dan mendiskusikan apa yang diamati dan artinya

v  Mendorong untuk berpartisipasi dalam kerja social

v   Mendorong anak untuk berpikir dari sedut pandang yang berbeda

v  Mendiskusikan sifat – sifat tokoh dalam film atau buku

Karir :

Guru, antropologis, pemimpin organisasi, costummer service, public relation, sales , travel agent, sosiologis, pembawa acara talk show politisi dan konsultan

5. Body Kinestetik

Kemampuan untuk menggunakan motorik kasar dan halus dalam olahraga seni dan produksi kerajinan. Intelegensi ini melibatkan tubuh untuk menyelesaikan masalah, menghasilkan produk dan untuk  menuangkan ide dan emosi.

Ciri:

  • Memiliki keseimbangan yang baik, ritme yang baik
  • Memiliki gerakan yang indah
  • Dapat membaca bahasa tubuh
  • Memiliki koordinasi yang baik antara tangan dan mata
  • Dapat menyelesaikan masalah dengan cara mengerjakan
  • Dapat mengkomunikasikan ide melalui gerak- gerik
  • Baik dalam aktivitas fisik dan seni

Cara menstimulasi :

v  Mendorong untuk menjawab pertanyaan dengan bahasa tubuh

v  Mendorong untuk membuat karya ketrampilan tangan

v  Mendorong partisipasi dalam aktivitas olahraga dan tarian

v  Bermain permainan untuk meningkatkan koordinasi  Syaraf- otot

Karier :

Atlet, fisioterapis, model, mekanik, koreografer, artis, pembuat kerajinan, penemu, penari, artis sirkus, dokter, perawat, pelatih olahraga dan militer.

6. Visual Spasial

Kemampuan untuk memanipulasi sebuah bentuk atau objek dan untuk menciptakan keseimbangan dan komposisi dalam tampilan visual atau spasial.

Ciri-cirinya:

  1. Senang menggambar dan merancang bangun.
  2. Senang puzzle
  3. Memperhatikan detail
  4. Mengingat tempat dengan bantuan penjelasan atau gambar
  5. Dapat membaca peta
  6. Memiliki orientasi yang baik.
  7. Baik dalam menggambarkan benda, membaca peta dan kurva.

Cara menstimulasi:

  1. Mendorong visualisasi dan konseptualisasi bahan bacaan
  2. Mendorong bermain permainan yang memerlukan penggunaan visualisasi.
  3. Mendorong untuk melontarkan ide dan pemikiran melalui gambar dan grafik untuk mengekspresikan diri mereka sendiri.
  4. Mendaftarkan anak ke kursus membuat kerajinan, gambar, dan fotografi.

Karir:

Dekorator interior, desainer interior, fotografer, arsitek, pilot, ahli bedah, pelukis, pemahat, chef, illustrator buku, pemandu wisata, desainer baju dan perhiasan.

7. Musikal

Adalah kemampuan untuk menikmati, memainkan, dan membuat karya musical. Termasuk juga sensitivitas dalam ritme suara, dan respon terhadap dampak emosional elemen-elemen ini.

Ciri:

  1. Memiliki sensitivitas dalam pola-pola suara.
  2. Membedakan suara dengan jelas.
  3. Mencari dan menikmati pengalaman musical.

Cara melatihnya:

  1. Mendorong untuk menyanyi
  2. Mendaftarkan anak ke les music.
  3. Mendorong anak untuk mendengarkan music selama membaca atau relaksasi.
  4. Mendorong anak untuk mendengarkan ritme alam dan mencoba untuk menemukan polanya.
  5. Mendorong untuk menggunakan lagu untuk mengekspresikan perasaan.

Karir: Terapis musik, guru musik, penulis lagu, konduktor, pemain instrument musik.

8. Naturalis

Merupakan kemampuan untuk mengenali flora dan fauna, serta fenomenanya.

Karakter:

  1. Senang  kegiatan outdoor, binatang, tumbuhan, dan benda-benda alam lain.
  2. Senang dan memperhatikan hal-hal semisal perubahan cuaca, perubahan daun di musim gugur, suara angin, hangatnya matahari, atau juga seekor serangga di ruangan.
  3. Mungkin membawa pulang binatang dari luar, dan memiliki binatang peliharaan serta ingin memiliki lagi.

Cara melatih:

  1. Mendorong aktivitas yang berkaitan dengan alam
  2. Mendorong membaca bahan yang berkaitan dengan topik ini
  3. Mendorong untuk mengamati, mengapresiasi, dan mendengarkan siklus dan suara alam.
  4. Mendorong hoby yang berkaitan dengan alam, seperti berkebun, memilihara binatang.

Karir: penjaga hutan, pelatih binatang, penjaga kebun binatang, ahli pertanahan, botanis, ilmuwan, peneliti burung, dokter hewan, petani/peternak, penjaga kelestarian hutan.

Hasil analisa sidik jari untuk multiple inteligence, kita fokus pada bakat genetik yang paling menonjol ( grafik paling panjang), untuk intapersonal dan interpersonal itu wajib dikembangkan karena itu adalah bekal anak atau seseorang dalam hidup bersosialisasi. Untuk dua aspek yang paling menonjol, itulah yang kita sebut sebagai bakat unggul. apabila kita berangkat dari bakat unggul seseorang maka tidak mustahil seseorang itu mencapai prestasi puncaknya dalam waktu yang relatif singkat, efisien waktu, tenaga dan materi. karena kita memiliki langkah yang jelas, akan kemanakah awalnya kita dalam mengembangkan bakat seseorang/ anak.

Untuk mengikuti Tes Sidik Jari, silakan hubungi Partiwi 0858 69 757 757 (boleh SMS).

 

Dominasi Otak Kanan dan Otak Kiri 8 November 2009

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — partiwi @ 2:11 pm
Tags: , , ,

brain-763982-1Latar Belakang

Pada abad ke- 19 diketahui bahwa orang yang memiliki cacat pada area tertentu di otak, kehilangan kemampuannya untuk berbicara. Penemuan ini dibuktikan lagi oleh Roger W sperry yang mendapatkan nobel tahun 1981 , dia menemukan bahwa ada fungsi- fungsi tetentu yang dimiliki oleh bagian-bagian spesifik dalam otak

Apa yang ditemukan oleh Roger W. Sperry

Penelitian itu membuktikan bahwa bagian kanan  dan kiri otak terspesialisasi dalam tugas yang berbeda. Bagian kiri berkaitan dengan hal-hal logis, factual, analitik dan bahasa. Bagian kanan otak terlibat dalam hal music, kreativitas dan emosi.

Contoh kasus kerjasama otak, bagian kanan berfungsi menggambarkan atau mengimajinasikan kata yang anda ucapkan misal kata bola maka otak bagian kanan akan menggambarkan seperti apa wujud bola itu.

Dari informasi diatas, bagaimana kita mengetahui dominasi otak bagian mana ( area yang lebih responsif) menerima stimulasi? beberapa cara praktis telah lama diketahui orang yaitu dengan menepukkan kedua tangan dan menangkupkan jari – jarinya. untuk bukti ilmiahnya  belum diketahui.

Analisa sidik jari dapat melihat area otak / belahan mana yang lebih responsif secara genetik, sehingga setelah kita tahu kondisi kita secara genetik, kecenderungan otak kanan , otak kiri atau cukup seimbang. setelah kita mengetahuinya ( apabila hasilnya cenderung dominan pada otak kiri atau kanan ) makka langkah berikutnya adalah memberikan solusi bagaimana menyeimbangkannya.

Sifat Keuntungan Kerugian
Otak Kiri Logis, rasional, analitik, factual dalam proses pengambilan keputusanLebih menyukai fakta dan detil dan alas an yang masuk akal Logis, rasional, spesifik dan kemampuan pengambilan keputusan yang tinggi Kaku, keras kepala dan menolak pendapat orang lain
Otak kanan Emosional, berperasaan, tergantung intuisi dalam pengambilan keputusan dan kurang analitik Kreatif, banyak ide dan mudah mengerti orang lain. Tidak praktis dan emosional
 

Gaya Belajar & Fingerprint Test (Analisa Sidik Jari) 24 Mei 2009

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — partiwi @ 4:37 am
Tags: , ,

gambar3Mungkin anda pernah mendengar bahwa ternyata orang-orang yang pernah dicap gagal di sekolah bisa menjadi tokoh terkenal di dunia. Sebut saja Albert Einstein, ilmuwan terbesar pada zamannya ini selalu gagal dalam pelajaran matematika pada awal SMA dan suka melamun ketika belajar hingga dicap bodoh oleh gurunya. Begitu pula dengan Thomas Alfa Edison. Gurunya menganggap dia ’suka bingung’ dan terlalu banyak bertanya hingga dipukul oleh gurunya.  Hal ini membuktikan bahwa masing-masing kita memiliki gaya belajar, gaya berpikir dan gaya bekerja yang unik, seunik sidik jari kita. Mengenali gaya belajar menjadi penting bila dikaitkan dengan harapan untuk sukses dalam pembelajaran baik di sekolah maupun di kehidupan. Dulu, untuk mengetahui gaya belajar kita, maka kita akan diminta mengisi serangkaian kuesioner yang merupakan instrumen dari LSA (Learning Style Analysis) Test, kini telah hadir suatu cara untuk mengetahui gaya belajar kita dengan hanya melakukan scan sidik jari atau yang sering disebut sebagai fingerprint test.

Sebuah penelitian yang dikembangkan sejak tahun 1979, mengungkapkan bahwa  ”tiga-perlima gaya belajar bersifat genetis; sisanya, diluar ketekunan, bisa dikembangkan melalui pengalaman”. Hal ini sangat relevan dengan fingerprint test yang mana medianya adalah sidik jari seseorang. Telah lama kita pahami bahwa sidik jari setiap orang pasti berbeda, itulah sebabnya sidik jari selalu digunakan untuk mengidentifikasi seseorang. Sidik jari pun tidak pernah berubah sejak kita lahir hingga kita wafat kelak, karena ternyata pembentukan sidik jari ditentukan oleh DNA, bersamaan dengan pembentukan otak. Proses pembentukannya dimulai saat janin berusia 13 minggu, dan sempurna pada minggu ke 24. Karena itulah, sangat wajar bila ternyata bukti ilmiah menyebutkan adanya korelasi lahiriah antara sidik jari dengan kualitas, bakat, dan gaya belajar seseorang.

Karenanya, semakin dini kita tahu gaya belajar kita, maka akan semakin mudah pula kita dalam menyerap informasi. Laporan fingerprint test DIC ini menyuguhkan laporan gaya belajar seseorang berdasarkan teori VAK (Visual-Auditori-Kinestetik). Laporan ini dibuat berdasarkan temuan para peneliti bahwa epidermal ridge pada sidik jari seseorang memiliki hubungan yang bersifat ilmiah dengan kode genetik dari sel otak dan potensi intelegensi seseorang. Penelitian dimulai oleh Govard Bidloo pada tahun 1865, J.C.A Mayer (1788), John E Purkinje (1823), Noel Jaquin (1958). Beryl Hutchinson tahun 1967 menulis buku berjudul ‘Your Life in Your Hands’, sebuah buku tentang analisis tangan. Terakhir, berdasarkan hasil penelitian Baverly C Jaegers (1974), tersimpulkan bahwa sidik jari dapat mencerminkan karakteristik dan aspek psikologis seseorang, hasil penelitian mereka telah di buktikan dibidang Antropologi dan Kesehatan. Manfaat tes ini sangatlah luas. Terutama sekali dalam mengetahui potensi dan gaya belajar kita ataupun anak kita.

Sebagai contoh, seorang anak dengan gaya belajar kinestetik-visual, akan sangat kesulitan bila disuruh gurunya untuk duduk diam dan membaca buku teks hitam-putih-tanpa-gambar. Ia kemudian sibuk ’mengganggu’ temannya, karena ia bisa menyerap informasi yang disodorkan kepadanya bila ia diizinkan untuk mengekspresikan gerak tubuhnya. Guru yang tidak paham, akan mengatakan bahwa anak tersebut nakal, tidak bisa diatur, dll. Padahal yang ia butuhkan hanyalah pemahaman dari orang-orang di sekitarnya bahwa ia memiliki gaya belajar kinestetik yang secara otomatis membuatnya lebih mudah belajar bila ia diizinkan bergerak. Hasilnya, sangat mungkin bila anak tersebut mengalami kemunduran atau bahkan keterlambatan dalam menerima informasi.

Hal tersebut diatas tidak akan terjadi apabila kita tahu dan paham gaya belajar kita atau bahkan anak-anak kita. Karena bila kita sudah paham, maka kita pun tentu tidak akan memaksakan suatu kecenderungan gaya belajar di suatu tempat pada anak kita.

Untuk dapat mengetahui gaya belajar kita melalui Fingerprint Test, prosesnya cukup sederhana. Pertama, kesepuluh sidik jari tangan kita akan di-scan dan disimpan gambarnya. Selanjutnya, telapak tangan kita akan diberi tiga titik dan diukur besar sudutnya. Proses tersebut memakan waktu + 5-10 menit, selanjutnya hasil scan dan pengukuran sudut tersebut akan dibawa ke laboratorium dan dianalisa. Dua minggu kemudian, anda sudah bisa mengetahui hasil analisanya dalam bentuk buku laporan analisa.

Keunggulannya, tes ini tidak membutuhkan waktu lama. Peserta pun tidak harus mengerjakan berpuluh-puluh pertanyaan yang terkadang jawabannya memancing subjektifitas peserta.  Namun, ada juga kelemahannya. Tes ini hanya mengukur bakat, gaya belajar, dan karakter seseorang berdasarkan data genetisnya. Sehingga, kapanpun anda melakukan tes ini, maka hasilnya pun akan tetap sama.

Hasil analisis FT memang tidak dapat memberitahu masa depan seseorang, tetapi bisa memberikan solusi komprehensif dalam distribusi kecerdasan lahiriah, potensi, dan gaya belajar.

Untuk mengikuti Tes Sidik Jari, silakan hubungi Partiwi 0858 69 757 757 (boleh SMS).

 

Setiap Anak Cerdas!! 24 Mei 2009

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — partiwi @ 4:31 am
Tags: , , , ,

anakYa!! Setiap anak cerdas!! Setiap anak berbakat!! Tapi, apa sih yang bikin seseorang tergolong anak berbakat? Paling kelihatan, ya, dari IQ-nya. Taruhan deh, kita sering menilai seseorang pintar atau enggak dari IQ-nya, kan? Tapi, itu aturan lama! Zaman sekarang penilaian itu enggak cukup cuma dari IQ. Menurut Prof Joe Renzulli, psikolog pendidikan asal Amerika, seseorang dikatakan berbakat kalau mempunyai nilai di atas standar pada tiga macam karakteristik, yaitu kemampuan umum, komitmen tugas, dan kreativitas. Dr. Howard Gardner, seorang psikolog dari Universitas Harvard, AS, mengemukakan teorinya bahwa kecerdasan tidak terpatri di tingkat tertentu dan terbatas saat seseorang lahir. Teori multiple intelligences yang diusungnya membantah pandangan sebelumnya tentang kecerdasan yang hanya melihat kecerdasan dari segi linguistik dan logika semata. Multiple Intelligences adalah teori yang mengedepankan pendapat bahwa kecerdasan yang berdasarkan pada tes IQ, yang merupakan pandangan tradisional, amatlah terbatas. Gardner, yang juga psikolog ini, mengemukakan definisi kecerdasan yang berbeda untuk mengukur cakupan yang lebih luas potensi manusia,

Contohnya, Mozart adalah pemusik jenius, seorang komposer sekaligus symphonies yang menjadi salah satu contoh pemilik kecerdasan musikal. Sedangkan, Einstein adalah salah satu ilmuwan dunia yang memiliki kecerdasan logika dan matematika. Apakah Einstein lebih cerdas dibanding Mozart ? Jika ditilik dari teori multiple intelligences, Einstein dan Mozart sama-sama cerdas tapi berbeda bidang. Maka, menurutnya, setiap orang berkesempatan mengembangkan kecerdasannya di berbagai bidang. Gardner menemukan delapan kecerdasan, yaitu cerdas bahasa, cerdas logika/matematika, cerdas visual-spasial, cerdas musik, cerdas gerak, cerdas alam, cerdas sosial (interpersonal), dan cerdas diri (intrapersonal). Setiap orang berpotensi memilikinya, namun perkembangannya berbeda-beda. Selain itu, kecerdasan ini jug tidak berdiri sendiri, terkadang tercampur dengan kecerdasan lain. Misalnya saja, bila kelak si kecil menjadi seorang dokter ahli bedah, ia membutuhkan kecerdasan visual-spasial yang menonjol untuk menggunakan pisau bedahnya, juga kecerdasan gerak tubuh untuk kelenturan tangannya ketika menggunakan pisau.

Untuk dapat mengetahui bakat dan kecerdasan diri, maka ada banyak cara yang dapat dilakukan. Salah satunya dengan mengikuti tes analisa sidik jari atau yang sering dikenal sebagai Fingerprint Test. Tes ini berlandaskan pada teori dermatogyphics yang telah diteliti sejak ratusan tahun yang lalu. Penelitian dimulai oleh Govard Bidloo pada tahun 1865, J.C.A Mayer (1788), John E Purkinje (1823), Noel Jaquin (1958). Beryl Hutchinson tahun 1967 menulis buku berjudul ‘Your Life in Your Hands’, sebuah buku tentang analisis tangan. Terakhir, berdasarkan hasil penelitian Baverly C Jaegers (1974), tersimpulkan bahwa sidik jari dapat mencerminkan karakteristik dan aspek psikologis seseorang, hasil penelitian mereka telah di buktikan dibidang Antropologi dan Kesehatan. Yang sering menjadi pertanyaan adalah kenapa sidik jari? Telah lama kita pahami bahwa sidik jari setiap orang pasti berbeda, itulah sebabnya sidik jari selalu digunakan untuk mengidentifikasi seseorang. Sidik jari pun tidak pernah berubah sejak kita lahir hingga kita wafat kelak, karena ternyata pembentukan sidik jari ditentukan oleh DNA, bersamaan dengan pembentukan otak. Proses pembentukannya dimulai saat janin berusia 13 minggu, dan sempurna pada minggu ke 24. Karena itulah, sangat wajar bila ternyata bukti ilmiah menyebutkan adanya korelasi lahiriah antara sidik jari dengan bakat dan gaya belajar seseorang. Manfaat tes ini sangatlah luas, terutama dalam mengetahui bakat lahiriah dan gaya belajar seseorang.

Untuk dapat mengetahui bakat, potensi dan gaya belajar kita melalui Fingerprint Test, prosesnya cukup sederhana. Pertama, ke-sepuluh sidik jari tangan kita akan di-scan dan disimpan gambarnya. Selanjutnya, telapak tangan kita akan diberi tiga titik dan diukur besar sudutnya. Proses tersebut memakan waktu + 5-10 menit, selanjutnya hasil scan dan pengukuran sudut tersebut akan dibawa ke laboratorium dan dianalisa. Dua minggu kemudian, anda sudah bisa mengetahui hasil analisanya dalam bentuk buku laporan analisa.

Keunggulannya, tes ini tidak membutuhkan waktu lama. Peserta pun tidak harus mengerjakan berpuluh-puluh pertanyaan yang terkadang jawabannya memancing subjektifitas peserta.  Namun, ada juga kelemahannya. Tes ini hanya mengukur bakat, gaya belajar, dan karakter seseorang berdasarkan data genetisnya. Sehingga, kapanpun anda melakukan tes ini, maka hasilnya pun akan tetap sama.

Hasil analisis Fingerprint Test memang tidak dapat memberitahu masa depan seseorang, tetapi dapat membantu anda mengenal kekuatan dan kekurangan diri. Tapi janganlah cepat-cepat mengambil kesimpulan bahwa si kecil, misalnya cocok menjadi atlet, akuntan atau ahli biologi tanpa memberikan kesempatan padanya untuk mengeksplorasi dunia, bekerja dengan keterampilan sendiri dan mengembangkan kemampuannya sendiri. Karena bagaimanapun juga, kecerdasan anak tidak hanya bersumber dari pemenuhan nutrisi yang seimbang, tetapi juga disertai pemberian stimulasi pada anak. Anak yang cerewet, kritis, dan senang bercerita, apabila mendapat arahan yang tepat akan memiliki kepintaran verbal linguistik, yaitu anak yang mampu berinteraksi dan meyakinkan orang di sekitarnya. Kesimpulannya, seseorang tumbuh dengan perkembangan otak lebih baik jika difasilitasi beragam pengalaman.

Untuk mengikuti Tes Sidik Jari, silakan hubungi Partiwi 0858 69 757 757 (boleh SMS).